Semoga hidup kita terus begini-gini saja – Hindia (cincin)
Nyatanya, hidup tidak pernah begini-gini saja.
Aku sering mendadak cemas akan hal-hal yang belum kejadian. Misalnya, waktu lagi gemar-gemarnya hobi sepeda (lagi) di masa COVID-19. Di tahun 2020-an hampir tidak ada bengkel sepeda yang masih buka sekitar rumah. Lalu dapat referensi bengkel dari rekan kerja yang lokasinya sekitar 3-4 km dari rumah.
Pemilik toko sekaligus bengkel sepeda ini sudah tua dan tampak sangat berpengalaman. Di kalangan penghobi, namanya cukup dikenal. Ia biasa menangani apa saja: sepeda harian, MTB, road bike, sampai sepeda lipat merek Inggris (yang mendadak) naik daun waktu itu.
Aku sendiri memutuskan untuk membangun ulang sepeda lama–yang dulu pernah kubangun ulang juga di masa ramai-ramainya sepeda fixie (2010) dan itu bukan yang kali pertama, hehehe. Jadi Sepedaku ini dibeli bekas sewaktu SD, lalu dicat ulang sama bapak (1998).
Nah, saat serius-seriusnya membangun sepeda. Mendadak aja kepikiran, gimana kalau bapak bengkel ini sudah nggak ada? harus ke mana lagi kalau misalnya sepedaku bermasalah? Karena sepedaku bisa dikatakan sudah tua juga.
Nyatanya, yang lebih dulu nggak ada adalah semangatku bersepedaan. Sepedaku lebih banyak berdiam di pojokan, tak digunakan. hehehe.
Taken for granted
Lain cerita, sebelum menikah, apapun yang terjadi di rumah, misalnya genteng bocor, pintu seret, keran jebol, semuanya dibereskan oleh Bapak. Karena Bapakku adalah tukang yang berpengalaman. Semua alat pertukangan ada. Tetangga pun sering minta tolong.
Tapi, seiring waktu berjalan, bapak tak lagi menyanggupi permintaan orang lain. Tenaganya tak sekuat dulu. Lebih baik dipakai untuk membenahi rumah sendiri. Apalagi ia masih kerja di pabrik.
Setelah menikah, tentu saja gengsi dong minta bantuan Bapakku. Yak, betul, aku minta bantuan Pakpuh-nya istriku, yang juga seorang tukang. hehehe.
Genteng bocor? panggil Pakpuh.
Pompa Air rusak? panggil Pakpuh.
Pokoknya semua pertukangan.
Tapi ya, mungkin memang kebiasaan taken for granted, karena biasanya kalau sama bapak sendiri gratis, hehehe. Ternyata biaya pertukangan bisa semahal itu. Apalagi kalau misalkan membutuhkan tambahan personil. Untuk pekerjaan berat, Pakpuh biasanya mengajak satu orang kuli untuk membantu karena secara usia Pakpuh sepantaran atau bahkan mungkin lebih tua dari bapakku.
Beberapa tahun terakhir, Pakpuh cukup sibuk banyak garapan. Sehingga, Aku yang orang dalam pun ikut antre hanya untuk sekadar minta bantuan. Salah satunya, benerin talang rusak yang bikin atap kamar mandi bocor.
PR terbesar rumah ini adalah lubang untuk ke atap ukurannya terlalu kecil, jadi untuk pria dengan berat berlebihan sepertiku tidak muat. Ya, itu alesanku aja lebih suka nyuruh orang daripada belajar untuk benerin sendiri.
Cemas yang berlebihan (insecure) untuk hal-hal yang belum terjadi dan menganggap enteng (taken for granted) hal-hal yang selalu ada dalam hidup memang sering bersemayam dalam diri kita. Dua perasaan ini membuat kita berada di persimpangan. yang satu sering kali mendapatkan respon “makanya jangan mikir aneh-aneh,” yang kedua, “makanya peduli dikit, belajarlah, biar gak bergantung sama orang.” Tapi apapun itu, dua hal ini memang salah satu cara manusia untuk menjaga tetap aman perasaannya.
Seminggu setelah Pakpuh selesai membetulkan talang rumah bersama rekannya, aku menyadari ada yang salah dengan pompa air. Sepertinya bocor, tapi tidak terlalu parah.
Ah, nanti aja, baru juga kemarin minta tolong Pakpuh, pikirku.
Nyatanya, sebulan kemudian, pada suatu pagi, istriku mendapat pesan singkat dari sepupunya.
Mengabarkan, Pakpuh sudah tiada.
Al fatihah untuk Pakpuh.
Dan, hidup memang tidak pernah terus begini-gini saja.
Lanjut, memikirkan cara memanjat atap dan genteng.
Leave a Reply