pendapat

Baru saja menonton siniar (podcast) Raditya Dika bersama Dian Sastro, yang bercerita filmnya screening di Busan Korea Selatan. Di satu sesi ada beberapa guru datang nonton, lalu keesokan harinya dia datang lagi dengan banyak murid. Katanya, karena untuk bahan diskusi di kelas. Seingetku tidak banyak kegiatan resensi yang ada sekolahku dulu.

Ada sih, guru kesenian yang menyuruh siswanya datang ke pameran lukisan di Balai Pemuda Kota Surabaya. Tentu saja guruku menyuruh kami untuk berangkat sendiri-sendiri sepulang sekolah, entah itu naik angkot (dan harus oper beberapa kali) atau gimana pokoknya harus ke sana. Aku ingat dibonceng temen pake motor tanpa helm dari pusat kota Sidoarjo sampai ke tengah kota Surabaya alias wajah jelek ini yang udah buluk kena asap knalpot sampai jadi jelek banget. Tapi sepertinya, nggak jelas deh dulu tuh laporannya seperti apa, sekadar presentasi aja atau gimana.

Lain waktu, ada guru bahasa Inggris yang kasih lihat film “Forrest Gump,” di depan kelas dengan proyektor, cukup memberikan pandangan baru bagi kami, tapi seingetku tidak dibahas bagaimananya juga. Padahal kalau melihat di film-film, apalagi setting sekolah, pasti ada scene di mana guru ngasih muridnya novel untuk dibaca, atau film untuk ditonton, lalu dibahas “apa pandanganmu tentang ini?” ya semacam esai atau resensi. Memang di zaman sebelumku, ada tuh kegiatan menonton film di setiap bulan September, tapi di zaman itu bahaya sekali jika mengomentari film itu apalagi kalau bilang filmnya jelek, bisa-bisa dicap ateis. wkwk.

Ketimbang mengarang bebas–top of mind masyarakat pada umumnya kalau disuruh bikin tulisan saat pelajaran Bahasa Indonesia–menurutku, jika kebiasaan meresensi ini diberlakukan, perkembangan murid untuk bisa melihat dan memberikan sudut pandangnya bisa lebih baik. Sebagai orang yang “terpaksa pendiem” aku merasa hal ini penting. Setidaknya berani mengutarakan pendapatnya, lah.

Tapi balik lagi, kenapa guru tidak melakukan kegiatan itu ya? Kalau di Amerika, memang pelajarannya bukan Bahasa Inggris (tata bahasa) tapi English Literature (Sastra Inggris). Well, banyak juga yang salah kaprah dengan arti kata “sastra.” Karena di telinga awam, pasti dikira hanya tentang puisi dan prosa, atau mentok, novel panjang yang bahasannya berat (misalnya Siti Nurbaya). Padahal sastra itu bisa masuk ke segala aspek misalnya sejarah, sosio dan budaya yang terkandung di tulisan tersebut dan di pelajaran sastranya orang Amerika (dan mungkin negara lain) para siswanya diminta untuk berpendapat. Minimal bikin esai, bukan mengarang bebas.

Tapi itu di negara lain.

Kalau di negara ini, gimana bisa siswanya bisa berpendapat kalau gurunya saja berpendapatan minim ya, kan?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *