Ibuk

Tidak banyak orang tahu, mungkin hanya keluarga dekat. Kalau aku sering berselisih dengan Ibuk. Kami punya cara padangan yang 180 derajat berbeda. Perdebatannya mengalahkan debat kusir cembong kampret wkwk. Namun sering kali sebagai anak pada akhirnya aku yang kalah. Dan selisih pendapat ini biasanya cuman sehari aja abis itu baikan lagi.

Suatu waktu, aku berselisih lagi, tapi baru dua tiga kalimat, Ibuk terdiam. Ibuk yang biasanya nggak mau kalah, tiba-tiba berkata, “yaudahlah, kita emang selalu beda pendapat.” lalu pergi. Aku yang masih ego dan emosi, sedikit kaget, kok gak seperti Ibuk biasanya. Aku terdiam. Aku mendengar Ibuk mengambil wudhu untuk salat Isya.

Waktu berlalu, aku memutuskan untuk kembali ke rumahku sendiri. Aku harus meminta maaf. Aku dekati Ibuk, beliau khusyuk berdoa. Kulihat air matanya menetes. Ibuk yang biasanya tegar dan kuat, tampak lemah di hadapanku. Aku meminta maaf, mencium tangannya, lalu kupeluk. Belum pernah seumur hidupku melihatnya serapuh ini. Bahkan badannya tampak benar-benar rapuh. Akhirnya memang harus kusadari, bahwa aku bukan lagi anak kecil yang ngeyelan, dan Ibuk sudah tua sekarang.

Lalu aku menjadi takut dengan waktu. Ibuk yang kuat saja bisa kalah dengan waktu. Semoga Ibuk akan selalu sehat dan cita-citanya tercapai.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *