Jarvestment

Pandemi mengajarkan kita bahwa segala sesuatu bisa “hancur”, meskipun kita sudah mempersiapkan sebaik mungkin. Di masa pandemi seperti sekarang, sudah banyak buktinya, tidak hanya masyarakat kecil, perusahaan besarpun terkena imbasnya. Salah satu teman (yang sukses) harus menjual apartemennya agar supaya bisa menggaji karyawannya. Nah, apalagi pegawai medioker seperti saya?

Jauh sebelum ada pandemi korona, aku pernah mengalami krisis ekonomi akibat kebodohan sendiri. Di tahun akhir tahun 2013 dan akhir 2018, aku berhenti dari pekerjaan. Yang pertama karena aku sudah muak dengan sikap kantorku yang menurutku meremehkan pegawainya dan terlebih lagi aku ingin fokus menyelesaikan kuliah. Jadinya, aku menganggur selama 6 bulan, sehingga aku hampir menghabiskan tabunganku. Dan teman-teman yang berhutang padaku, pada gak ada kabar. Biadab emang, hhha. Setelah itu, aku kembali ke kantor lama, goblos emang. Skip ke tahun 2018, di mana aku masih kerja di kantor lama, mendadak kantorku diambang “kematian”. mirip dengan 2013, bedanya aku sudah menikah. Jadi tanggung jawab tidak hanya pada seorang diri saja, tapi juga pasangan. “Ya Allah, masa anak orang, kuajak melarat,” begitulah aku berserah diri pada saat itu.

Untungnya, aku ada Unitlink di AXA Mandiri, Aku sebut unitlink agar bisa membedakannya dengan asuransi murni. Umumnya, yang ditawarkan sales adalah asuransi plus investasi alias Unitlink. Unitlink ini sebenarnya mau kututup saja, seperti banyak keluhan masyarakat yang katanya “ketipu sales” saat beli unitlink ini. Namun, karena menganggur diakhir 2018, aku merasa beruntung unitlink ini masih kuteruskan. Jadi setengah dari nilai investasi yang kusimpan sejak 2013 bisa aku cairkan dan kugunakan untuk bertahan hidup sampai bekerja kembali di pertengahan tahun 2019.

Intinya adalah menabung dan investasi itu sangat penting. Aku jadi inget dulu sebelum 2013 seorang teman kerja pernah melihat halaman internet bankingku, yang waktu itu gak banyak sebenarnya hanya sekitar 15jt dan dia bertanya, buat apaan simpen duit banyak-banyak. Well, terbukti kalau aku nggak simpen uang, mungkin udah tewas saat nganggur itu hhha.

Tentang investasi, selain menabung di bank, aku sudah tahu tentang reksadana sejak 2013, karena ya nilai untuk memulainya cukup dengan 100rb. Dulu untuk bikin rekening yang bisa transaksi reksadana nggak banyak pilihan seperti sekarang. Dulu aku bikin di Commonwealth karena pilihan reksadananya banyak dan bisa transfer gratis ke bank lain. Tapi karena mindsetku dulu masih mirip dengan “menabung” jadi aku gak terlalu percaya dengan reksadana, katanya minimal 5% pertahun tapi nyatanya minus terus wkwk.

Ironisnya justru akhir tahun 2019 -2020 dan ada pandemi, aku baru memulai berinvestasi dengan mindset yang cukup benar. Dibantu dengan menonton yutubnya Doddy Bicara Investasi dan blognya PaskalisInvesment. Ditambah lagi, kini cara untuk berinvestasi banyak sekali, apalagi improvement perkembangan cara berinvestasi sekarang serba mobile (Handphone).

Saat ini, fokus investasiku sebenarnya tersebar di berbagai instrumen, mulai dari yang terbesar ada di reksadana, deposito, SBN, saham, emas, dan p2p lending. Untuk deposito (sebenarnya bukan) aku menggunakan fitur Save It Jenius BTPN. Untuk Reksadana, SBN, dan emas, aku menggunakan Tanamduit dan Bibit. Untuk Saham aku menggunakan Ipot dari indopremier. Sementara untuk p2p lending aku menggunakan KoinWorks dan Propertree. Semua itu aku gabung lalu olah menjadi Net Asset Value (NAV).

IHSG

Begitulah grafiknya, yang kurumuskan secara asal saja. Secara umum memang pergerakannya masih mengikuti IHSG. Tidak ada kenaikan secara signifikan. Kunamakan Jarvestment biar tampak keren meskipun cuannya masih kecil. hhha. Semoga tiap bulan bisa nulis laporannya biar tetep rajin nabung.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *