kawan

Aku adalah teman yang buruk.

aku pernah menulis bahwa ada ironi dalam diriku tentang pertemanan bahkan bisa dicari saja di blog ini dan sudah berkali-kali menulis tentang itu.

Sejujurnya aku hampir tidak pernah menjenguk teman yang sakit, apalagi ke rumah sakit. Mungkin memang tidak terbiasa, dan sewaktu kecil ketika ortu akan menjenguk seseorang, selalu meninggalkan kesan kalau aku tidak boleh ikut.

“Kamu belum jenguk Riz—teman seangkatan kerja di tempat kerja baru?” Tanya Wid, teman seangkatanku juga, setelah bercerita telah menjenguk teman kami yang sudah sebulan tidak masuk kantor. Waktu itu, menurut keyakinanku, rumah sakit adalah tempat orang beristirahat untuk sembuh. Jadi, menjenguk justru terasa merepotkan orang yang sedang sakit. Apalagi dia tidak pernah bercerita sakitnya apa, bahkan kepada teman yang sudah menjenguknya.

“Mungkin lebih baik kalau dia sudah pulang ke rumah saja,” jawabku.

Selang beberapa hari kemudian, saat nongkrong pagi di kantin kantor, seorang teman lain—yang juga seangkatan kerja—menepuk pundakku, “Bro, dirimu juga belum jenguk ya? ayo nanti sore kita ke sana!”

“Kayaknya, kalian emang harus segera ke sana deh?” teman lain lagi ikut menambahkan.

Aku ingat betul, belum juga es dalam gelas mencair, suasana kantin yang ramai terasa hening, notifikasi grup WA berdentingan, secara tidak langsung mengabarkan kalau kami tidak perlu menjenguk ke rumah sakit.

Tapi bertakziah ke rumahnya.

utang

“Tiga juta, kalau ada 😁” pesanku ke Adib—teman lama di tempat kerja sebelumnya.

“Insya Allah, ada, Kawan 👍 norek?” balasnya dan selang beberapa menit kemudian, dia mengirim bukti transfer.

Uang yang kupinjam memang tidak banyak, tapi cukup untuk bertahan hidup beberapa bulan ke depan sebelum aku mulai kerja di tempat kerja baru. Kegiatan pinjam-meminjam ini sebenarnya tidak terjadi kalau saja pencairan unit link berjalan sesuai jadwal. Apalagi sebenarnya, sejak dari kecil sudah diajari untuk tidak berutang. Tapi, kebutuhan yang semakin mendesak membuatku harus menurunkan ego dan entah kenapa, satu-satunya teman yang—menurutku—baik hati di top of mind-ku adalah Adib.

Pertemanan kami seperti layaknya kolega kerja pada umumnya, aku pernah resign dari perusahaan software house ini lalu kembali lagi dan mendapati dia sebagai implementator. Tidak ingin bilang kalau tempat kerja kami toxic tapi emang turnover pegawainya cepat saja. Lalu setelah beberapa waktu berlalu, ada persimpangan arah perusahaan sehingga terbelah menjadi dua perusahaan. Kami berada di perusahaan berbeda, meskipun secara komposisi pemiliknya sama.

Sialnya, perusahaan tempatku bekerja semakin lama performanya turun. Sementara di tempat Adib meskipun turun tapi agaknya masih stabil. Hingga sampailah pada titik aku bekerja secara “freelance” di perusahaan dia berada. Yah, karena perusahaan tempatku bekerja sudah “dibubarkan.”

“Kalau udah cair, aku balikin ya,” janjiku tapi setelah masuk kerja di tempat baru, masih belum stabil juga jadi molor 2 bulan dari yang kujanjikan sendiri.

rezeki

Sejauh ingatanku, aku tidak pernah iri dengan rezeki orang, kalaupun iri ya yang sewajarnya saja. Alih-alih iri kadang aku malah “melempar” kesempatan rezeki itu. Misalnya ketika menjadi full-time programmer aku sering kali diajak entah teman ataupun orang random dari LinkedIn untuk kerjasama, karena aku orangnya pemalas, kulempar aja itu kesempatan ke temenku yang lain. Perkara nantinya dia dapat benefit laptop baru dari pekerjaan yang kulempar tadi, sementara aku masih pake laptop jadul, ya itu karena kesalahanku sendiri dan emang rezeki temanku. Maka tidak heran aku justru kesal ketika ada yang ghibah tentang temanku yang kukenal baik.

“Adib, sekarang gaya, loh, pergi-pulang kerja pake mobil sekarang,” kata kolega lain, “tapi yang jelas dibeliin mertuanya sih, bukan beli sendiri, ” tambahnya sinis.

“Ooh,” balasku datar tapi kutambahi, “pantes kemarin mau pinjem tali buat bawa barang di motor katanya udah gak ada.”

“Dia sekarang udah kerja di Jakarta,” cerita lagi (mantan) kolega yang sama, ya benar karena memang sama seperti perusahaanku sebelumnya, karena pemiliknya sama, alias sama saja cara ngurus perusahaan miliknya kurang asik. Jadi perusahaannya udah mau tutup juga. Adib salah satu yang udah dirumahkan duluan. Sementara aku yang memang sudah punya kerjaan baru, terkadang masih bantu-bantu secara freelance. Lagipula, aku sudah tahu, karena hampir setiap beberapa bulan aku menanyai keadaannya.

pabrik

“Kita butuh satu orang lagi buat mengawasi pabrik ini,” ucap salah satu dari lima orang—termasuk aku—setelah mengakuisisi bisnis kecil-kecilan. “Sekalian yang bisa akuntansi saja.”

Di kepalaku sudah ada satu nama, Putri, teman kerja di kantor lama, sebagai admin. Alih-alih menerima tawaran, Putri malah memberikan informasi, “mas Adib tuh, udah beberapa bulan ini balik dari Jakarta dan masih nganggur.”

Menyelami histori obrolan kami di WA, aku menyadari sudah jarang berkirim pesan sejak dia mendapatkan kerjaan baru. Pesan terakhir kami bahkan waktu lebaran tahun lalu.

“Persyaratannya apaan?” tanya Adib.

“Ganteng,” jawabku asal. Dan memang se-absurd itu obrolan kami.

izin

“Mas, ini aku Dee,” pesan dari nomor Adib, jam 8 malam. “Aku nggak tau mau hubungi siapa tentang kerjanya Mas Adib.”

Dee adalah istri Adib yang juga teman di kerjaan lama. Sepertinya Adib hanya bercerita kalau dia dapat info kerjaan dariku.

“Mas Adib masuk RS hari ini,” memang beberapa hari terakhir Adib izin untuk datang kerja agak siang, karena selain kadang mengantar Dee yang hamil tua, dia juga mau kontrol kesehatan. Sedihnya, dari ceritanya, Adib salah diagnosa dan salah diberikan obat. Sampai gula darahnya turun di bawah normal dan kalau bicara ngelantur.

“Sori bagian kiriku kena stroke gak bisa angkat-angkat lagi,” setelah beberapa minggu keluar dari RS, Adib masih harus sering kontrol dan terapi tapi kondisinya semakin menurun.

Sama halnya dengan kondisi pabrik, yang juga menurun.

Meskipun dua tahun setelah dia dirumahkan di kerjaan lama hingga kami bertemu lagi di pabrik ini, aku masih melihat Adib yang sama konyolnya seperti awal-awal kami berkenalan. Tapi, aku melihat sosok yang berbeda sekarang, padahal baru satu bulan tidak bertemu karena dia masuk RS. Aku hampir tidak mengenalinya.

pemulihan

Kami setengah tertipu tentang usaha pabrik yang kami jalankan ini, hampir semua izinnya tidak sesuai dan pemilik lama mendadak hilang. Solusinya kami harus memulai dari awal, yang berarti operasional pabrik harus berhenti.

“Ini bukan karena kamu, Dib.” Entah kenapa kata-kataku seperti pasangan ABG yang mau putus. “Bukan karena keadaanmu sekarang, tapi keadaan pabrik ini yang harus berhenti,” lanjutku memilih kata yang pas dan mencoba tidak menyinggung.

“Jadi, kami akan mencoba memulihkan dulu usaha ini, sembari kamu juga memulihkan diri,” sambung temanku.

Aku melihat jelas ada kekecewaan di wajahnya, tapi mau bagaimana lagi, daripada dia harus bolak-balik menggunakan ojek untuk ke pabrik dan kondisi pekerjaan yang sedang turun—yang berarti belum akan ada tambahan bonus—dan gaji yang masih di bawah UMR. Jadi sebaiknya sumber dayanya digunakan untuk pemulihan.

stori

Bro, Adib loro ta ninggale?” pagi-pagi sekali sebuah pesan masuk dari Agus, teman di kerjaan lama juga, tapi dia jauh lebih dulu resign dari kantor.

“Loro,” aku menjawab dengan keadaan masih mengantuk, karena setahuku Adib masih sakit. Pertanyaan Agus jika dibaca sekilas saja artinya, Adib sakit atau meninggal? Jelas-jelas baru sebulan lalu kami bertemu tentu masih sakit. “Dapet info dari mana?” ku tanya balik.

“Dari Dee, lihat status WA-nya.”

Aku tidak melihat status/stori WA Dee, mungkin karena belum menyimpan nomorku, karena memang terakhir kali lebih sering WA menggunakan nomor Adib. Di tengah obrolan dengan Agus, aku berkirim pesan ke Dee, menanyakan kondisi Adib.

Setelah menjelaskan kronologinya ke Agus, aku minta dia screenshot stori dari Dee di hape Agus, karena Dee masih belum membalas.

“Loh, kemarin ini? Innalillahi wainna ilaihirajiun, aku gak tau sama sekali,” jawabku panik.

Aku mengutuki diriku sendiri. Ku-scroll lagi obrolanku dengan Agus, aku tidak membaca huruf ‘e’ di akhir kalimatnya, karena jika terbaca harusnya berarti Adib, meninggalnya karena sakit, kah? Seketika menyadari kesalahpahamanku langsung kuhapus pesanku ke Dee .

Aku masih tidak terima karena telat mendapatkan info sepenting ini, tapi seperti kata Putri—yang menohok—meskipun Dee menyimpan nomorku, aku sering kali tidak melihat stori teman-teman. Lagipula meskipun aku merasa Adib adalah teman yang baik bagiku, tapi bisa jadi aku bukanlah teman yang baik untuknya, sehingga aku tidak ada di top-of-mind Dee ketika ingin mengabarkan berita duka ini.

Aku menyesal kenapa tidak langsung menjenguknya di rumah sakit. Pikirku, ah dia pasti sembuh.

Aku menyesal setelah Dee melahirkan anak keduanya, juga tidak segera menjenguknya.

Menunda-nunda menjenguk, ujungnya berkunjung kerumahnya dalam rangka takziah.


Aku sebenarnya udah lupa tulisan ini akan berakhir seperti apa, dan perasaan apa yang ingin aku sampaikan. Mungkin selama ini aku sudah merasa punya teman. Yang sudah cukup dengan bertanya saja keadaannya. Tapi aku lupa, menjadi teman itu bukan soal merasa—melainkan hadir.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *