Takut
Pada suatu sesi obrolan bersama istri membahas ketakutan pada hal-hal mistis. Di mana kesalahan orang-orang pada umumnya fokus pada ketakutan yang “tidak tampak” ketimbang bahaya yang sebenarnya ada di depan mata. Misalnya, ketika naik gunung yang ditakuti malah hal mistisnya ketimbang potensi hipotermia atau hewan liar. Pembahasan terkait ketakutan itu mengerucut tentang diriku. Boleh ditanyakan ke ibuku atau adikku, kalau aku dulu penakut sekali, apalagi kalau mau kencing di malam hari. Saking penakutnya, mungkin keduanya sampai saat ini masih yakin kalau aku masih penakut. Lalu, aku menjelaskan bagaimana aku menemukan alasanku takut. Ternyata, yang kutakutkan bukan hantu ataupun hal mistis lainnya tapi kegelapan, yang ketika aku di dalamnya, tidak tahu apa yang akan terjadi kepadaku—misalnya tiba-tiba ada kecoak terbang. Ketakutan yang sama tentang aku memandangi masa depan. Uncertainty. Ketidakpastian.
Akan lebih mudah jika membayangkan berada di dua skenario. Skenario pertama, kamu berada di sebuah ruangan bersama satu penjahat memegang pistol, ruangan ini bercahaya terang dan kosong. Skenario kedua, kamu berada di sebuah ruangan bersama satu penjahat membawa pisau dengan ruangan gelap dan kosong. Dari dua skenario ini mana yang menurutmu paling menakutkan? Menurutku adalah skenario kedua. Penjahat pada skenario pertama bisa terlihat jelas, kalaupun kamu pasrah, kamu saat itu juga tahu kapan pistol itu ditembakkan. Pada skenario kedua, meskipun serangannya lebih lama dan kamu bisa punya waktu menghindar tapi kamu sama sekali tidak pernah tahu kapan pisau akan menancap padamu. Bahkan kamu tidak tahu kapan penjahat ingin menghunuskan pisau, atau mungkin tidak berniat sama sekali. Tapi rasa takut akan tertusuknya sudah mencekikmu. Ya, begitulah kehidupan.
Kembali lagi padaku ketika menemukan ketakutan terbesarku, aku mendadak teringat pada awal mula memahami bahwa rasa takutku bukan ketika sendirian di gelap malam hari. Yaitu, masa-masa aku menjadi penjaga warnet shift sore selepas lulus SMA. Di jam malam saat pelanggan sudah satu per satu pulang dan sambil menunggu shift selesai, aku menyadari masa depanku penuh dengan ketidakpastian. Di saat yang sama pula aku menyadari di sudut mataku ada bayang-bayang yang tidak jelas, yang ketika aku toleh tidak ada apapun. Kadang pun, tiba-tiba komputer di sudut ruangan paling jauh mendadak menyala sendiri. Entah apapun itu yang menggangguku, aku terlalu sibuk takut dengan ketidakpastian masa depan. Alih-alih takut pada hal mistis, aku malah membayangkan ada sosok imajinasi yang menemaniku apalagi di malam itu hujan tiba. Lalu aku menulis dan menjadikannya semacam cerpen tentang itu.
Obrolan kami berganti topik tapi masih ada yang mengganjal di kepala tentang judul cerpen yang kutulis itu.
Resensi
Dari awalnya teringat masa-masa menemukan sumber ketakutan terbesarku, aku jadi teringat tentang cerpen yang kutulis saat itu. Anehnya, ketika searching di blog ini, aku tidak menemukannya. Mendadak teringat ada sebuah “buku” elektronik yang tidak pernah kumasukkan ke daftar buku di blog ini sebelumnya. Karena malu.
Sebuah buku elektronik (pdf) berisi sekumpulan tulisanku antara tahun 2007-2010 yang terinspirasi dan hasil amati-tiru-modifikasi dari apa saja yang menjadi bacaanku waktu itu, berjudul CUPU. Mengumpulkan beberapa tulisan ini pun sebenarnya karena ngikut blogger saat itu, Dadun—yang karyanya sampai saat ini masih sering ada di Gramedia—melakukan hal yang sama lebih dulu, kupikir kenapa enggak. Meskipun nantinya tidak jadi penulis (beda dengan Dadun), setidaknya aku bisa tahu pernah menulis sebanyak itu. Kegiatan mengumpulkan ini berlanjut menjadi buku lain yang sampai self-publishing di nulisbuku.com (RIP) atau bentuk media lain ketika aku cukup telat mengenal apa yang disebut mixtape.
Setelah membaca ulang CUPU, aku menemukan judul cerpen yang kumaksud, “Ketika hujan turun…” Tanpa ingin membahas isi cerpennya, yang tentu saja bisa kalian baca sendiri, aku menemukan sudut pandang baru dari buku CUPU secara keseluruhan. Mungkin karena memang sudah jauh sekali sejak dibuat, 15 tahun yang lalu. Atau mungkin, karena seiring bertambah usia sudut padang pun ikut berubah.
Sama halnya tentang pelukis Vincent van Gogh, karyanya terkenal justru ketika ia sudah tiada dan sudut pandang orang menginterpretasi karyanya dengan mewah dan berharga mahal. Nilai lukisan itu berbeda jauh sekali ketimbang saat ia masih hidup dan gagal menjual lukisannya—karena bisa jadi dianggap jelek atau aneh. Begitu juga reaksiku setelah membaca ulang CUPU, bukan lagi melihat diriku yang jones dan galau—sosok yang waktu itu yang kucoba bentuk ke publik, khususnya di internet. Aku melihat CUPU sebagai jawaban beberapa pertanyaan yang mengantung ketika ditanya hal-hal pada periode itu.
Alih-alih sekadar menemukan tulisan lama, aku malah meresensi diriku sendiri dari yang kutulis waktu itu. Sekumpulan tulisan tersebut—meskipun acak—tapi ada satu benang merah yang bisa diambil bahwa di rentang waktu itu: aku selalu merasa sendirian, menghayal sendiri, dan berdebat dengan diri sendiri. Pada akhirnya aku paham dan bisa menjawab kenapa aku memilih tidak kuliah sarjana—bahkan, ikut tes pun tidak.
Setidaknya sekarang, ketika ada pertanyaan serupa, aku bisa menjawab dengan mantap, bahwa waktu itu aku terlalu memikirkan hal-hal yang seharusnya tidak perlu dipikirkan. Apalagi saat memikirkannya sedang merasa takut, merasa sendirian dan membenci diri sendiri dalam ketidakpastian.
Leave a Reply