Setiap

Setiap kali duduk termenung entah saat gabut kerja ataupun hal lain, aku selalu mengingatnya. Teringat kalau-kalau aku ini belum membahagiakan dia. Meskipun setiap kali aku bertanya, jawabannya akan selalu, “aku selalu bahagia sama kamu”. Tapi entah ya, aku selalu merasa belum cukup membahagiakannya. Sejak mengajaknya hidup bersamanya, banyak sekali hal yang kami lalui. Banyak sekali hal baru kami lakukan, banyak pula hal yang kemudian tidak kita lakukan lagi. Alias, kami sudah bersama sudah cukup lama. Suka duka jadi terasa lumrah, hidup biasa begini-begini saja, tapi tetap kami merasa bahagia.

Tapi sering kali ada satu pertanyaan hadir. Setiap kali itu muncul, rasanya memaksa kami untuk merasa tidak bahagia. Aneh sekali memang. Kami yang bahagia-bahagia saja tiba-tiba disuruh untuk merasa tidak bahagia. Aneh.

Pertanyaan yang tidak salah memang. Kadang kala aku juga mempertanyakan hal itu. Kadang kala juga aku akan menjadi stres. Bukan tentang pertanyaannya. Tapi jawaban. Jawaban yang memicu berbagai pertanyaan. Bagaimana jika jawabannya adalah aku? Bagaimana jika aku selama ini adalah sumber potensi ketidakbahagiaannya yang belum muncul? Bagaimana jika hal-hal yang dia lakukan sebelumnya, berhenti karena aku? Bagaimana jika kebahagiaan dia saat ini, sebenarnya sebuah ketidakbahagiaan jika tidak bersamaku? Bagaimana jika dia akan lebih bahagia dengan orang lain?

Aku takut. Itu jawabanku untuk pertanyaan yang hadir dengan premis “kok nggak?”. Aku takut jika pertanyaan itu dilanjutkan, akan muncul pertanyaan lebih banyak dengan jawaban yang mungkin mengarah kepadaku. Hidupku kini rasanya seperti ditodong pistol oleh hantu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *