alasan

Mungkin ini berawal sesaat setelah saya jatuh cinta pada pikiran yang pertama. Iya, saya berpikir saya sedang jatuh cinta sama kamu. Saya mencari segala kemungkinan untuk menjadi alasan bahwa saya jatuh cinta padamu.

Seiring berjalannya waktu, saya bertemu lagi dengan cinta pertama saya, dan saya berhenti mencari alasan-alasan itu. Sungguh indah saat itu, akhirnya ada kesempatan kedua untuk berbagi dengan cinta pertama. Tapi, rasa penasaran untuk mencari alasan meruntuhkan segalanya.

Saya meninggalkan dia karena mencari sebuah alasan.

Lihat!

Saya meninggalkan dia dengan alasan untuk mencari sebuah alasan untuk mencintamu yang belum saya temukan. Bingung ya? saya juga bingung waktu itu. Padahal saya punya alasan kuat untuk tetap bersama dia; cantik, keibuan, jago masak, dan setia. Sempurna. Dan kenapa saya malah jatuh cinta dengan kamu yang berkebalikan dari dia?

Lalu, kini, saat semesta mengatur isinya sedemikian rupa, hingga masing-masing dari kamu dan dia telah punya pangeran. Tetap saja saya masih belum bisa menemukan sebuah alasan.

Oh, kali ini saya tak bisa menemukan alasan untuk melupakan kamu, yang sederhananya karena saya memang tak pernah punya alasan mencintaimu, begitu juga sebaliknya.

Ah, shit happens on everyone.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *