Momen itu: (tidak) sendirian

Saya ambil sedikit ingatan yang tersisa dalam ruang otak saya. Saat saya duduk manis dalam balutan pakaian formal: Jas + dasi + celana kain–tentu saja dari hasil meminjam. Saya duduk dalam urutan kelas dan nomor absen. Untung saja bukan urutan dari pintar ke bodoh, pastinya saya akan berada di barisan paling belakang.

Di samping kiri (atau kanan? ah ingatanku!) duduk seorang cewek (sebenarnya, kiri dan kanan saya sama-sama cewek). Bukan apa-apa, bukan karena selama ini saya mengaguminya, hanya sekali ini saya melihat dia tampak lebih cantik dari biasanya. Ya, walaupun dia tak secantik cewek yang duduk dua bangku di depan saya. Intinya, semua yang hadir di sini adalah orang-orang luar biasa, hasil metamorfosis, dan terlihat cakep hari ini!

Di depan, (di atas panggung) jajaran guru-guru wali kelas dan petinggi sekolah duduk tak kalah manisnya. Di belakang mereka terbaca dengan jelas tulisan dengan fonta jenis klasik namun tegas tersusun membentuk kalimat: “Purnawidya siswa-siswi 2008″.

Butuh tiga tahun untuk berada dalam momen ini, dan–pastinya–semua orang yang duduk di sini berguman dalam hati–sembari kembali ke masalalu–”Ah rasanya baru kemarin ya?”

saya sendiri merasa seperti baru kemarin…

….berlari sendirian dari sekolah teknik sebelah gara-gara gagal tes kesehatan–yang meyebalkan itu–menuju sekolah ini untuk mendaftar. Sedikit rasa skeptis menjalar ke sekujur tubuh saat melihat wajah-wajah intelek pendaftar lainnya. sedikit mengitip nilai-nilai mereka rasa skeptis itu berubah menjadi minder.

….sendirian saat MOS (Masa Orang Susah!), tak ada teman-teman dari SMP yang menembus tes masuk–laknat itu. Saya berdiri dalam barisan, mendengar nama saya dipanggil untuk penentuan kelas. dibarisan kelas itu saya berbaris paling belakang–sendirian–melihat teman-teman (baru) di depan dan akan menjadi teman selama tiga tahun ke depan, (dan mungkin juga selamanya).

….merasa bangga memakai seragam putih abu-abu berlabelkan tulisan “SMA Negeri 1″ kemudian nongkrong di depan ‘bekas’ SMP dan dianggap anak sombong.

….berdiskusi dengan teman sekelas mengenai ketakutan tak beralasan terhadap seorang guru yang pada masa-masa mendatang membuat suram kehidupan dan merusak hari sekolah yang menyenangkan hanya dengan tiga jam pelajaran praktik di lab biologi dan tiga jam pelajaran di dalam kelas. Hari yang saya takuti selain hari kiamat.

….jatuh cinta dengan seseorang, namun saya pendam sampai saat ini. Berbunga-bunga, melihat seseorang itu. menjadi kontak jodoh dalam percintaan teman, menasihati teman, membenci teman, menyukai teman, mencintai teman, melupakan teman.

….bertengkar dengan teman, bertengkar dengan guru, bertengkar dengan mental, hingga akhirnya bertengkar dengan diri sendiri atas pertengkaran-pertengkaran tak berarti.

….dan menjadi siswa yang ingin lekas-lekas lulus.

Kemarin itu sebenarnya berskala tiga tahun. Hanya untuk ada dalam momen inilah….

….tiga tahun yang sarat akan pelajaran itu dijalani.

“Fajar N. Indra,” sebuah panggilan menarik saya ke masa kini. Saya berdiri dari tempat duduk menuju tempat “perwisudaan”. Tak ada tepuk tangan, tak ada apa-apa, karena memang saya tak pernah melakukan apa-apa kecuali (selalu) merasa sendirian.

Setelah menerima “tanda” kelulusan, saya kembali duduk. Masih merasa sendiri, saya melihat satu per satu teman saya yang berikutnya dipanggil, diiringi tepuk tangan, jabat tangan merajalela dari dewan guru, suara MC meledak-ledak membacakan prestasi-prestasi. Saya merasa bodoh sendiri, karena teman sebelum giliran saya juga disambut seperti itu.

Saya berputar-putar dalam stagnansi kata “sendirian”, mencari-cari jawaban mengapa saya merasa sendiri pada momen ini. Apakah mungkin karena saya akan berpisah dengan teman-teman ini? Dan kecemasan ini membuat waktu berjalan terlalu cepat.

Dan entah bagaimana bisa jauh diluar perkiraan, semua ini terasa sangat hambar. Padahal mestinya saat yang paling dinantikan tiga tahun itu menjadi sesuatu yang luar biasa. Saya ingin bahagia sampai menitikkan air mata, tetapi yang ada malah godaan untuk tertawa atas hal-hal yang tidak jelas. Tertawa tidak selalu berarti bahagia, meski sama sekali bukan berarti bersedih. Tertawa bisa menjadi alternatif yang cukup efektif ketika kita bingung memilih satu dari sepasang situasi hati tersebut.

Tapi saya bahagia melihat Ibu dan Bapak bahagia.

Saya menyempatkan membuat “kenang-kenangan”, saya berfoto dengan mereka. Ternyata, sesekali menjadi tidak egois rasanya cukup menyenangkan juga. Rasa hambar itu mungkin cuma semacam kekosongan kecil yang tak bisa saya penuhi untuk diri saya sendiri. Momentum ini boleh jadi bukan milik saya, melainkan kado kecil dari saya untuk Ibu dan Bapak.

Acara wisuda ini usai. dan tak ada alasan yang menahan saya untuk tetap berada di sini. Toh semuanya sibuk dengan keinginan masing-masing; berfoto ria, merencanakan kuliah bareng, satu kosan dan begitulah.

Sekali lagi saya merasa sendirian, karena tak punya keinginan-keinginan itu. saya pun berniat pulang sendirian. Ibu dan bapak sudah pulang duluan.

“Fajar! mau kemana?” tanya seorang cewek, teman sekelas yang duduk di sebelah saya tadi. “ayo sini dulu, sekalian foto-foto juga,” ajak dia sambil menarik saya.

Ah tak mengapa berfoto dengannya, karena dia tampak cantik di momen ini, dan belum pernah sebaik ini (biasanya suka nyubit dan marah pada saya).

Saya pun belum pernah merasa tidak sendirian seperti dalam momen ini karena banyak teman yang ingin tetap bersama saya; ngobrol, foto-foto….

DAN MEREKA BELUM PERNAH SEKEREN INI! guman saya dalam hati.

Hmm, mungkin momen ini akan jauh lebih berarti dan menarik untuk dibahas setelah bertahun-tahun kemudian, setelah ia hanya tinggal kenangan.

Saya pun ingin kembali menuliskan….

….Rasanya seperti baru kemarin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *