retropzism

“Hei, dari mana?” sapa seseorang berpapasan di sebuah mal, dia bersama dua orang lain dan satu anak kecil.

“Ehh, anuu, dari Gramed,” jawabku panik, aku ingat dia teman kuliah di Unesa tapi tentu saja seperti yang sudah-sudah, aku lupa namanya. Apalagi di tahun terakhir kuliah kami tidak pernah satu kelas lagi.

“Lagi santai, kan? Ayo ikut makan dulu,” aku sudah mencoba untuk menolak tapi dia mendorongku ke arah foodcourt, “udah ikut aja.”

Dia pergi memesan makanan dan seperti biasa yang kupesan “samain aja”.

“Jadi masnya siapanya Dia?” basa-basiku ke mas-mas yang ikut bersamanya. Di titik ini aku masih lupa nama temanku ini, dengan basa-basi ini cara yang paling sopan untuk mengingat nama teman. hehehe.

“Aku temen kerjanya Reza, ini istri dan anakku.”

Ah iya, namanya Reza. “Jadi dalam rangka apa Reza ngajak makan-makan ini?”

“Gak tau nih Reza.”

Kami tidak terlalu ngobrol banyak di pertemuan tersebut, namun jadi core memory karena biasanya aku yang mengenali teman lama terlebih dahulu—lalu ada dua opsi reaksiku, menyapa atau pura-pura nggak lihat. Tapi kali ini dia mengenaliku duluan, entah kenapa jadi seneng aja, apalagi aku sering merasa jadi orang yang mudah dilupakan.

Kejadian di atas terjadi 13 tahun yang lalu—anjay lama bet. Setelah itu apakah saya jadi mudah mengingat teman? tentu tidak, hhha.

Zeigarnik effect

Pernah nggak sih kamu tiba-tiba ingin mengingat sesuatu tapi kosong aja? Kamu berusaha keras untuk mengingat dan masih tidak ingat juga? Sialnya, meskipun kamu sudah menyerah, ada perasaan tidak nyaman. Seolah kepalamu masih nyangkut dalam mode searching, terus berputar mencari jawaban.

Tidak lama setelah itu, tiba-tiba… ting! OH IYA! Ingatan itu datang kembali, entah dari mana.

Hal menyebalkan ini biasanya tidak berlangsung lama, kadang setelah menyerah dan memikirkan atau melakukan aktivitas lainnya tiba-tiba saja keinget. Aku pernah mengalami Zeigarnik effect terlama, berhari-hari untuk hal yang tidak terlalu signifikan.

Suatu waktu kantorku berganti rekening payroll ke Bank Mei dan kantor yang sama bisa-bisanya ngasih gaji cash, lupa karena apa. Jadinya, aku harus setor tunai karena satu dan lain hal.

“Terima kasih, Bapak,” ucap teller sambil memanggil namaku, namun aku menangkap nadanya sedikit berbeda. Aku menatapnya, biasa saja—cantik banget juga enggak—seperti pernah kenal tapi nggak yakin di mana. Dia—entah mengenaliku atau tidak—juga tidak berbasa-basi lebih lanjut dan akupun memutuskan untuk keluar dari bank tersebut dengan kepala yang nyangkut di mode searching.

Aku mencoba memberi clue pada ingatan untuk menciptakan efek proust, teman SD? sepertinya bukan, teman SMP? bisa jadi karena kelasnya banyak, teman SMA? mungkin juga, teman kuliah di Unesa seperti Reza? sepertinya bukan. Meski dalam kebingungan, kepalaku memvalidasi bahwa aku mengenalnya cukup lama, bukan hanya bertemu 1-2 kali di suatu sesi begitu saja.

Sepertinya, otakku sedang nyangkut pada mode looping pencarian. Kalau menurut chatGPT karena terlalu memaksa bahwa “aku ingat” dan kata kunci yang kukirimkan tetap sama, antara teman SD-Kuliah di Unesa justru membuat nyangkut di mode ini tanpa ketemu jawabannya. Alih-alih nama, bahkan teman dari mana saja aku nggak inget.

Untungnya, karena ingatan fotografisku cukup kuat, aku bisa mengingat scene di bank saat aku di depannya dan melihat papan nama di mejanya, “Pretty”. Kebalikan dari Reza, di mana aku ingat dia selain namanya, untuk hal ini aku hanya tahu nama Pretty tanpa tahu dia ada di bagian mana dalam kehidupanku ini, hhha.

Beberapa hari kemudian, di sebuah mal, melihat-lihat toko, sejenak teralihkan dengan toko olahraga dan renang, lalu aku melihat pakaian selam. Katanya, pikiran bawah sadar bisa bekerja optimal tanpa diinterfensi pikiran sadar. Tiba-tiba kepala berasosiasi menyelam, tekanan, survival, KKN. Tidak begitu yakin apa hubungan dari kata-kata tersebut dengan kata kunci terakhir: KKN.

Ya, aku ingat mengenal Pretty saat KKN sewaktu kuliah di Untag. Jadi memang setelah dari Unesa aku pindah ke Untag. Kenapa dalam mengingat sebelumnya aku skip bagian ini karena sejujurnya saat di kampus ini aku tidak mencari apa-apa selain gelar sarjana aja. hhhhha. Jadi, temanku paling akrab di kampus adalah yang sama-sama pindahan dari Unesa.

Bisa mengingat Pretty 10 tahun yang lalu tidak memberikan dampak apa-apa. Toh, tidak akrab dan tidak punya kontaknya. Kalaupun ke Bank Mei tidak pernah bertemu lagi. Tapi membuktikan padaku jika memoriku masih bisa menyimpan banyak hal meskipun untuk mengingatnya butuh waktu yang lama.

Lucunya yang jadi core-memory bukan tentang orangnya tapi proses mengingat kembali. Barangkali ini menjadi dasar untuk lebih mudah ketika mencoba mengingat sesuatu, khususnya teman atau orang yang pernah hadir dalam hidup kita.

Tahun lalu, di sebuah mal aku berpapasan dengan seseorang pria. Kesannya sama seperti saat bertemu Pretty, bedanya aku benar-benar lupa namanya dan dia sama sekali tidak mengenaliku. Satu-satunya yang ada di kepalaku adalah kita pernah ada di satu ruang kelas yang sama berseragam hitam-putih dan nggak jauh-jauh amat. Aku yakin dia bukan teman kuliah apalagi sekolah. Dan dari pengalaman yang sudah-sudah, kuputuskan untuk menyerah begitu saja, capek mengingat, hhhha.

Ujug-ujug pikiran bawah sadar beretorika, kalau hitam-putih dan gak jauh-jauh amat, apalagi kalau bukan kegiatan Latihan Dasar (latsar) awal-awal masuk tempat kerja baru?

Aku langsung membuka grup WA dan melihat foto profil grup berisi banyak orang berjejer rapi foto bersama. Dia dan aku bersebelahan di foto tersebut. Tentu saja aku lupa namanya dan tidak menyimpan kontaknya. hhhhe. Lagipula karena di angkatan grup kebanyakan dari bidang kesehatan dan aku di bidang lain hampir jarang sekali bersinggungan kembali setelah kegiatan tersebut.

Terkait “nggak jauh-jauh amat” dalam retorika dibandingkan kejadian yang lain, kali ini lebih jauh lebih lama. Kalau Reza itu 2 tahun setelah lulus kuliah di Unesa, Pretty kurang lebih 3 tahun setelah KKN—setelah itu tidak pernah ketemu lagi, bahkan di kampus. Sementara temen latsar—yang namanya belum aku ingat sampai sekarang—sudah lima tahun sejak terakhir kami pulang dan berpisah dari tempat latsar ke kantor masing-masing.

Bias

Ada satu orang teman yang masih kuingat sampai kini karena dia salah satu teman pertama saat kuliah di Unesa, dan jauh lebih akrab ketimbang dengan Reza. Tanpa perlu memaksa ingat aku tahu username yang sering dia gunakan. Judul tulisan ini disadur dari username-nya, adiretropz.

Banyak hal yang terjadi pada kami, mulai dari teman sekelas di setiap mata kuliah sampai memilih beda kelas terpisah, sekadar gabut di kosan, ngemal, ataupun mokel saat ramadan. Tapi tentu yang paling membekas adalah pertengkaran tolol kami sewaktu wisuda di akhir masa kuliah, mungkin karena aku udah jengah sama pola pikirnya dan dia sudah capek dengan olokan yang sering aku lempar padanya. Setelah itu, kita tak bertegur sapa entah kurang lebih 1-2 tahun mungkin.

Pertemuan kembali kami ketika aku diminta untuk membagikan undangan nikah salah satu teman kami. Lalu berlanjut ke pertemuan berikutnya, seperti nongkrong ngopi, pergi kondangan ataupun buka bersama, tentu tidak setiap saat seperti zaman kuliah. Mungkin, setahun hanya 4 -5 kali saja.

Lalu waktu berlalu dengan cepat, satu persatu teman angkatan kami menikah, tentu intensitas semakin menurun, tak ada lagi ngopi bareng, nyasar di kondangan, ataupun bukber berkedok reuni. Toh, sejak pada menikah, banyak dari kami berpindah kota. Pertemuan berganti dengan grup WA, yang terjadi hanya ramai sesaat, lalu senyap, rencana bukber jadi wacana.

Tahun 2021, aku melihat notifikasi kalau dia left group, aku coba cek media sosialnya, facebook terakhir hanya tampak update foto profil dan instagramnya kosong. Entah apa yang terjadi, di saat itu juga pesanku untuknya centang satu. Kalau menelisik lebih jauh histori obrolan kami pun hanya sekadar basa-basi dan ucapan lebaran. Tidak ada juga kalimatku yang menyiratkan kepedulian padanya. Ironisnya ketika ‘centang satu’ malah ingin peduli. Aku memang teman yang buruk.

Akan lebih mudah diterima jika dia menghilang karena pertengkaran kami saat wisuda kala itu. Kali ini tidak ada penjelasan apapun, sebagai pribadi yang insecure dan self-centered aku malah berpikir apakah memang salahku. Ah, lagi-lagi aku justru memikirkan diri sendiri, alih-alih memikirkan keadaannya. Dasar teman yang buruk.

Aku mencoba bertanya kepada teman-teman setongkrongan, tapi tidak ada yang tahu dan kadang memang kami juga jarang mengetahui keadaan masing-masing. Tahunya, ya, dari update media sosial. Tak heran jika ada teman yang beranggapan aku hobi banget bersepeda karena aku hanya update status kalau lagi gowes saja—padahal aslinya cuma satu dua kali setahun saja gowesnya. Memang begitulah bias media sosial, sekadar menanyakan kabar, bagi yang bertanya mungkin sudah dianggap memberikan perhatian, si penerima mungkin hanya menganggap pesan biasa saja seperti SMS iklan dari operator.

Barangkali memang hidup seperti itu, pada akhirnya kita hanya satu dari sekian cabang pohon yang tubuh berbagai arah. Teman-teman seangkatan, apalagi yang setongkrongan sudah berada di kota berbeda. Sejujurnya menurutku agak unik karena Surabaya adalah kota metropolitan, jadi kalau untuk mencari pekerjaan atau uang rasanya lebih banyak peluang di sini. Tapi ya, kembali lagi, hidup ternyata tidak sesederhana itu.

Untuk Adi, kabar terakhir yang kutahu di tahun 2019 dirimu pulang ke kampung halaman, atau di mana pun kamu berada saat ini, semoga baik-baik saja dan bahagia selalu, ya.