Roti dan Selai Kacang

“Cobain deh gimana rasanya… ” dia mengoleskan selai kacang di atas roti bekal yang aku bawa dari rumah. Kugigit kecil rotiku, dan hmm… rasanya uenak tenan.

Itulah awal pertemuanku dengan Pia. di suatu sesi makan siang acara MOS SMA. Pia kebetulan satu kelompok denganku dan karena punya hobi yang berkaitan kami jadi cepet nyambung. Aku suka dengan roti, terkadang aku bikin sendiri. Sedangkan, Pia senang sekali dengan yang namanya selai dan favoritnya adalah selai kacang. Mungkin kami jodoh. Roti tak bisa lepas dari yang namanya selai. Begitulah teori konspirasi Pia tentang roti dan selai. Sejarah awal selai, gizi dan segala hal tentang selai semuanya dia ceritakan setiap kami bertemu. Selama setahun ini. Sampai kami kelas 2 dan meskipun kami berbeda kelas.

“Selai kacang itu unik, rasanya abadi, ingatan pertama orang tentang selai pasti selai kacang, aneh dan gak ada yang bisa ngalahin rasa selai kacang.” Ceritanya sambil menutup botol selainya yang berlabel slogan plesetannya “Pianut Butter” yang sering aku plesetkan “Pia is a Nut” dan dia malah bangga. “Nih makan.”

Aku gigit perlahan-lahan, sambil merasakan lembutnya roti bikinanku sendiri. Roti dan selai kacang. It’s just a perfect couple, pikirku.

“Enak kan? Emang gak ada deh yang bisa ngalahin apalagi ngilangin rasa Selai kacang kecuali….UMMPPP”

aku menyumpal mulutnya dengan roti. Terkadang bosen aja mendengar dia bercerita tentang selai kacang terus.

“IHHMM KHAMMUU!” dia marah dengan mulut yang masih penuh.

“Makan dulu gih! itu aku bikin semaleman loh.”

“Eh! serius? enak banget, rotinya kali ini lembut empuk gitu tapi padet, nggak kayak roti biasa yang isinya angin doang.”

“Hehe iya, itu adonannya aku mix manual pake tangan, kalo pake mixer pasti terlalu ngembang. Enak kan?” Jelasku sambil menyombongkan diri. tapi Pia malah asik makan. Sial.

“Eh… kalo kita udah sukses, entar perusahaan kita kerja sama ya? Kamu yg produksi roti, aku yang produksi selai.”

Duh! sebenernya aku ingin kamu gak perlu kerjasama. aku ingin punya perusahaan roti sekaligus selainya. Aku jadi direkturnya dan dia jadi ehhmm sekretaris gitu. Yah, sejak kali pertama kami bertemu aku sudah menaruh perasaan kepadanya. Tapi aku gak berani dan takut malah merusak hubungan yang sesempurna roti dan selai kacang ini. Paling tidak, saat ini aku sudah cukup puas menjadi sahabatnya.

****

Semester genap di mulai. Seperti biasa, Aku dan Pia masih selalu bertemu setiap jam istirahat, saling berbagi roti, selai dan tak lupa cerita-cerita tentang konspirasi roti dan selai tak kunjung selesai keluar dan bibir mungilnya.

Tapi hari ini dia tidak seperti biasanya. Dia bercerita tentang anak pindahan yang masuk ke kelasnya. Sama-sama penyuka selai. Akhirnya, aku tak perlu repot-repot lagi dengerin ceritanya tentang selai karena dia udah nemu temen yang sama.

“Ini buat kamu…” Pia menyerahkan sebotol selai kacang, yang sangat tidak seperti biasa. Dia gak mungkin mau menyerahkan semuanya, bahkan untuk dioleskan rotipun, harus dia sendiri yang melakukannya.

“Sepertinya….” Pia memerah wajahnya. “aku jatuh cinta sama dia…” senyum malu-malunya memerahkan pipinya.

Aku hanya terdiam. Entah kenapa.

“Aku balik ke kelas dulu ya” katanya sambil membawa botol lain. Berisi selai juga tapi berwarna merah. Selai Stroberi.

Aku lanjut mengoleskan selai kacang di roti bikinanku sendiri. Sepasang. Pia gak mau ambil rotiku. Saatku gigit ada hal yang terasa kurang. Rasa selai kacang itu gak terasa apa-apa. Sama saja dengan roti tawar tapi ada lembut selai yang tak berasa.

Dan ingatanku terketuk pada cerita-cerita konpirasi roti dan selai kacang yang sering Pia katakan. “Selai kacang itu rasanya abadi, gak ada yang bisa ngalahin rasanya, apalagi ngilangin rasa selai kacang kecuali cinta yang tak berbalas, kata Charlie Brown di komik Peanuts.”

Dan rasa selai kacang memang sepertinya telah hilang di lidahku. Hambar.

=======
06.07.08

====Penyangkalan/Disclaimer=====
Cerita ini saya tulis pada tanggal 06-07-08 setelah baca postingan radityadika yang ini (28 Maret 2008) yang mengutip “katanya Charlie Brown di komik Peanuts: Tidak ada yang bisa menghilangkan rasa selai kacang seperti cinta yang tak berbalas.” lalu 2010 muncul buku Raditya Dika “Marmut Merah Jambu” di cerita yang berjudul “pertemuan terakhir dengan ina mangunkusumo” yang bahas kutipan yang sama. Jadi maaf kalo mirip endingnya 😅

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *