vachzar

なにがあっても、あきらめないで

schadenfreude


Hampir semua orang pasti pernah merasa schadenfreude. Kata ini tidak ada padanan katanya dalam bahasa Indonesia dan lebih mudah menjelaskan dengan contoh. Semisal, ada orang kehilangan motornya karena suka menaruh motor di pinggir jalan depan rumah tanpa dikunci stang, kau pun dalam hati berpikir untung saja kamu terbiasa untuk memasukkan motor ke dalam halaman rumah dan tak lupa kunci stang. Bisa juga, setelah melihat berita tentang kelaparan di Afrika, kamu bersyukur tinggal di negara tropis dan subur seperti di Indonesia.

Schadenfreude adalah kata dari bahasa Jerman yang berarti ‘merasakan kesenangan atau rasa bersyukur saat mengetahui kemalangan orang lain’. Tentu saja yang kita rasakan ini bukan tentang merayakan kemalangan orang lain, apalagi menertawakannya. Tapi kekontrasan kondisi itu membuat apa yang kita punya tampak lebih hingga rasanya harus bersyukur. Tidak heran sering kali ada kotbah atau ceramah yang seperti ini, “dengan adanya bencana ini, kita diingatkan kembali untuk selalu bersyukur…”

Hal bagus kan, ya?

Tapi sedikit ironis, karena bersyukur tidak seharusnya dilakukan setelah melihat kemalangan orang lain. Bukan kah bersyukur harus dilakukan setiap waktu?

Sama seperti halnya yang bisa menilai diri kita adalah bukan kita sendiri melainkan orang lain. Opini “dia orangnya baik kok” itu lebih valid dari pada “gue orangnya baik kok”. Selain “membandingkan” rejeki kita dengan orang lain, memang sulit untuk mengukur rejeki yang kita dapat hingga tahu kapan untuk bersyukur. Sadly, pengingatnya ya schadenfreude.

invidia

Aku suka dengan sengaja mencatat sebuah perasaan yang belum pernah kurasa sebelumnya. Rasa menghadapi sebuah perpisahan sudah beberapa kali kutulis di sini dan sini. Bukan perpisahan galau-galauan dengan gebetan tapi sebuah rasa-tidak-nyaman-akan-sebuah-perpisahan, sederhana tapi sulit kuungkapkan dalam kata bahkan kalimat sederhana. Sampai harus ditulis beberapa kali hingga aku bisa puas menemukan kesimpulan secara sederhana.

Aneh memang.

Kali ini ada rasa baru yang membuatku tidak nyaman. Sudah lebih dari lima tahun aku menulisnya di sebuah aplikasi Notes, tapi sampai sekarang belum pernah menemukan nama dari perasaan ini, jika dicari istilahnya pun tidak benar-benar menggambarkan perasaan yang kurasakan. Iri mungkin kata dalam bahasa Indonesia yang mendekati perasaan ini. Aku pernah menuliskan ini dengan pendekatan berbeda namun setelah kubaca lagi catatanku dan kubandingkan dengan tulisan sebelumnya, kata iri agaknya terlalu negatif mengartikan perasaan ini.

Why is it so painful?
I've never felt this before 
Okay, okay, I've felt something like this before
but I never got it out of envy 
Why does envy cause wounds like this?
usually envy just stacking up like revenge
it's not even about me 
it's about someone else's happiness
sepotong catatan di aplikasi Notes di henpon sekitar 2018

Perasaan yang lumayan pedih (halah lebay) dan belum pernah kurasakan sebelumnya, apalagi muncul dari rasa iri. Namun sejak kecil dengan banyak keterbatasan ekonomi orang tua, jadi terbiasa untuk mengungkapkan rasa iri dengan “yaudahlah ya”. Contohnya ketika ada teman sekolah yang selalu juara kelas, ternyata dia les privat dengan guru yang berbeda tiap mata pelajaran, sementara aku masuk Primagama saja jadi sebuah angan-angan atau ketika kelulusan SMA di mana beberapa teman yang tingkat intelejensianya setara denganku (lebih tepatnya goblok) masih bisa kuliah di kampus negeri melalui jalur mandiri yang membutuhkan uang banyak.

Rasa iri seperti ini hanya akan menumpuk saja seperti dendam yang kemudian bisa ku(coba)buktikan dengan caraku sendiri. Keputusanku untuk tidak kuliah adalah bentuk (percobaan) pembuktian bahwa aku bisa sukses dengan jalan (yang kupilih) ini.

Ya tentu saja, pada akhirnya, aku tidak sukses-sukses amat. wkwk. Tapi intinya, rasa iri tidak pernah membuatku merasakan kepedihan. Jika schadenfreude mengingatkan akan keberuntungan setelah melihat kemalangan orang lain, perasaan ini sebaliknya, malah gemar sekali mengingatkan kekurangan diri sendiri setelah melihat kebahagiaan orang lain.

tidak konklusif

"Jika schadenfreude adalah senang melihat kemalangan orang lain. istilah apa yang tepat untuk sedih melihat keberuntungan orang lain?"

Aku menemukan kata invidia ketika melakukan sesi curhat obrolan dengan chatGPT, aplikasi obrolan berbasis kecerdasan buatan, di sela-sela waktu yang sebenarnya kugunakan untuk bersih-bersih Notes (dan menemukan sepotong catatan di atas).

Kutulis catatan itu ketika mengetahui kabar menggembirakan dari seorang teman dekat. Seorang yang tidak pernah sekalipun aku berpikir buruk tentangnya atau pun tidak ingin mendengar hal buruk terjadi padanya, terlebih lagi dia salah satu orang yang menyelamatkan hidupku. Itulah yang membuatku sangat kesal dengan diriku sendiri. Harusnya, aku ikut merasakan kebahagiaan dari kabar gembira itu. Tapi ada secuil invidia dalam hatiku yang membuatku sangat tidak nyaman. Ketimbang schadenfreude, kupikir aku justru menjadi manusia yang sangat buruk saat merasakan hal ini.

kok bisa ketika ada kabar orang lain bahagia, aku justru merasa sedih.

Sedih pada diri sendiri, yang tidak mendapatkan keberuntungan yang sama.

Mungkin memang manusia adalah makhluk yang tidak sempurna yang hidup dengan berbagai bentuk perasaan. Termasuk rasa tidak nyaman terhadap semua perasaan yang asing.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *